Selasa, 06 Januari 2015

Psikologi Kosa Kata

Bekasi (Indonesia Mandiri) - Memang, untuk kembali ke Esensi Nilai-nilai Bangsa Indonesia yang Luhur, bukanlah hal yang mudah. Banyak sekali variabel yang harus dikembalikan lagi ke Nilai-nilai itu sendiri.

Dalam kesempatan ini, saya ingin mencoba melihatnya dari sisi Bahasa sehari-hari saja. Dari sisi sini, salah satunya yang paling kita tidak sadari adalah penggunaan Bahasa Asing.

Mengapa koq "Bahasa," karena bahasa itu merupakan pola pikir dasar sebuah Bangsa atau masyarakat. Contoh yang gampang, konon bahasa Tetun (Bahasa Asli Timor Timur) itu tidak memiliki kosa kata "Terimakasih." Kata terimakasih diambilnya dari bahasa Portugis.

Dari sepenggal kata "Terimakasih" tersebut, saya rasa kita sudah bisa mendapat gambaran, bagaimana mereka berinteraksi untuk mengatakan Terimakasih? Apakah perbuatan orang baik kepada dirinya sebuah kewajiban, hingga tidak perlu ada kata Terimakasih, atau memang orang di sana hidup begitu individualnya, sehingga tidak perlu ada kata terimakasih.

Lagi-lagi dari sepenggal kata, masyarakat dapat membentuk atau dibentuk pola pikirnya. Untuk itulah, saya mencoba untuk sedikit mengkritisi dan mengajak seluruh orang yang tinggal di Bumi Nusantara ini, untuk mencoba kembali menggunakan Bahasa dan Kosa Kata Indonesia saja.

Jika di Bahasa Indonesia tidak ada kosa kata yang dibutuhkan oleh kemajuan pergaulan Bangsa ini, coba cari padanannya pada Bahasa Daerah kita sendiri yang memiliki jumlah kurang lebih 746 Bahasa Daerah. Seperti Download menjadi Unduh, dan Upload menjadi Unggah.

Penyimpangan penggunaan kosa kata Bahasa Asing ini, banyak orang yang hanya melihat atau meng-kritisinya pada penggunaan Bahasa Inggris saja. Sementara, banyak juga penggunaan Bahasa Arab di dalam komunikasi masyarakat.

Kalau itu kosa kata yang tidak berhubungan dengan Pola Pikir, syah-syah saja untuk digunakan. Tetapi, jika kosa kata tersebut menyangkut atau mempunyai makna "Pola Pikir dan Pola Gerak," hal inilah yang tidak boleh terjadi.

Untuk mengkritisi sebuah makna bahasa, kita tidak perlu menjadi ahli Bahasa, karena bahasa adalah alat yang inheren dalam diri kita, untuk kita berkomunikasi. Jadi, dengan menggunakan perasaan saja, kita sudah dapat merasa, adanya kekuatan bahasa, dalam merubah "Pola Pikir dan Pola Gerak" Bangsa ini, jika kita biarkan saja.

Dalam keseharian, banyak orang atau media yang memperkenalkan kata "passion / gairah," padahal konsep kosa kata tersebut ada, dan sudah ada dalam Bahasa Indonesia. Tetapi karena media turut menyebarkan, sebagai "Gaya Hidup", maka banyak anak muda yang menyebut dan mengerti esensi dari "Passion" tapi tidak tahu padanan katanya dalam bahasanya sendiri.

Di lain pihak, ada juga kata "Suudzon / Prasangka" padahal konsep kosa kata ini pun sudah ada dalam Bahasa Indonesia, tetapi lagi-lagi media turut menyebarkan melalui penyiar-penyiar yang sadar atau tidak, bahwa mereka telah menggunakan Bahasa Asing. Lagi-lagi, banyak anak muda yang menyebut dan mengerti esensi dari "Suudzon" tetapi tidak tahu padanan katanya dalam bahasanya sendiri.

Dari dua contoh kosa kata tersebut, jelas bahwa kekuatan Asing akan dengan mudah me-redefinisi kata-kata milik mereka yang sudah terlanjur berkembang di masyarakat luas demi kepentingannya.

Kita kadang tidak sadar bagaimana peran bahasa dapat mengombang-ambingkan atau mencuri perhatian masyarakat luas, untuk menjadi sesuatu.

Kalau kita tidak mengerti kata "Galau", maka kita tidak perlu "Galau", tetapi karena "Galau" dibuat menjadi trend maka pada saat itu pula banyak ABG yang "Mencari Perhatian" dengan menerapkan konsep "Galau" atau berpura-pura Galau untuk mendapat perhatian teman-temannya.

Akhirnya secara psikologis, ini adalah legitimasi untuk diri seseorang menempatkan eksistensinya, yang sebenarnya merupakan pembenaran pemecahan krisis eksistensi yang salah.

Silahkan Anda renungkan.....

Sapto Satrio Mulyo

Foto : Istimewa