Sabtu, 17 Januari 2015

Saat Ekstrim Kanan menikahi Ekstrim Kiri lahirlah "Ideologi Semangka"

Bekasi (Indonesia Mandiri) - Konsep Dua Kutub Ekstrim ini, seolah kita sudah nyaman menggunakannya dalam telaahan ilmiah, yang berhubungan dengan infiltrasi nilai-nilai asing untuk mengecoh Pancasila, sebagai satu-satunya ideologi yang memiliki nilai-nilai hasil penggalian nilai-nilai Leluhur kita sendiri. Dibanding ideologi manapun yang dibuat berdasarkan hasil pemikiran segelintir manusia.

Kalau kita analogikan Ektrim Kanan misalnya Mesin Mobil, sedangkan Ekstrim kiri itu misalnya Pintu Mobil, sekilas mereka memang berhubungan, tetapi secara esensial mereka tidak dapat dibandingkan. Keduanya tidak memiliki fungsi yang sama dalam penerapannya, mereka adalah bagian dari Mobil itu sendiri. Bahkan ada yang yang menjadi bagian vital, dan ada yang hanya sebagai bagian pelengkap saja.

Pertanyaannya mengapa kita tidak memperbandingkan Agama dengan Agama saja, dan Ideologi dengan Ideologi saja. Hal ini sudah terjadi sejak perang dingin, dimana kaum Kapitalis / Liberal mencuri start untuk lepas dari perseteruan, dan menjadi penonton perseteruan negara-negara musuhnya.

Di lain pihak, Soekarno yang Jenius sebenarnnya juga ingin menghalau start tersebut, dengan NasAKom vs Kapitalis/Lieberal, tetapi karena konsep tersebut mungkin beliau pikirkan hanya seorang diri tanpa bantuan pemikiran orang lain - yang mungkin kelak dapat menjadi second opinion, sehingga secara taktis kalah dalam menembus pasar.

Di sisi lain Kapitalis/Liberal lebih jeli melihat "Sensitifitas Produk Politik" yang laku dipasaran, dimana Komunis dihadapkan dengan Agama, selanjutnya Komunis diopinikan sebagai idelogi yang anti Tuhan, Maka, produk Soekarno kalah laris dengan produk Agitasi Propaganda Kapitallis/Lieberal, yang pada akhirnya membuat keterpurukan Soekarno Sang Proklamator Bangsa Indonesia yang anti Kapitalis/Lieberal tersebut.

Perkawinan Ekstrim Kanan dan Ekstrim kiri yang menumbuh kembangkan Semangka (Kulitnya Hijau dalamnya Merah), tidak serta merta dapat dianalisa secara runut dalam kosa kata, tetapi dapat lebih jeli lagi melihatnya siapa menggunakan siapa?

Terlalu njelimet kalau harus diterangkan dalam tulisan, tetapi singkat kata, dalam politik selalu ada terminologi yang diciptakan untuk membuat dua sisi mata uang yang berbeda, untuk kepentingan Agitasi Propaganda. Menjawab pertanyaan di atas, ternyata yang dahulu Ekstrim Kanan vs Ekstrim Kiri atau saling bermusuhan, kini mereka menikah dan menghasilkan anak yang lebih radikal dibanding kedua orang tuanya.

Di lain pihak, ternyata salah satu orang tua yang fanatik buta terhadap agamanya, kini bisa meng-absorbsi nilai-nilai pasangannya yang anti Tuhan, dan begitu pula sebaliknya, yang kini dapat hidup rukun di dalam sebuah rumah tangganya, tetapi akan menjadi ancaman yang sangat serius bagi Bangsa Indonesia.

Patahnya thesis di atas, sebenarnya sudah diantisipasi oleh lagi-lagi Bung Karno Bapak Bangsa Indonesia. Yang akan menimbulkan pembicaraan panjang mengenai Radikalisme Agama dan Radikalisme Komunisme.

Sementara Agama Kapitalis sudah lahir jauh lebih dahulu, yang sayangnya tidak kita sadari. :)

Sapto Satrio Mulyo