Sabtu, 24 Februari 2018

Kemenhub Minta Sarana Istirahat Sopir Bis Diadakan


Jakarta (IndonesiaMandiri) - Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan meminta pengelola wisata menyediakan tempat beristirahat bagi pengemudi bus wisata. Hal itu menjadi bahan rapat pihak Kemenhub yang mengundang operator bus, pengelola tempat wisata, pengamat transportasi juga Kementerian Pariwisata di Kementerian Perhubungan, Jakarta (22/2).

Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Budi Setiyadi mengungkapkan bahwa dari hasil analisa dan evaluasi kecelakaan lalu lintas di Subang baru-baru ini yang menelan korban 27 jiwa meninggal dunia (10/2), salah satunya penyebabnya adalah akibat faktor kelelahan pengemudi. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menemukan bahwa salah satu faktor adalah pengemudi. “Apakah (masalahnya karena) pengemudinya mabuk, menggunakan narkoba, capai atau ngantuk? Kami coba urai karena mengantuk atau lelah ini karena paling sering terjadi pada pengemudi bus angkutan wisata,” jelas Budi.

Salah satu hak yang perlu disediakan bagi para pengemudi adalah ketersediaan tempat istirahat. “Kalau mereka lelah, apakah diantara sekian pengelola tempat wisata sudah menyediakan tempat istirahat yang layak bagi pengemudi yang mau istirahat?” lanjut Budi sembari bertanya pada pengelola tempat wisata. Budi mengatakan bahwa pengelola wisata dapat menyediakan tempat istirahat yang layak bagi pengemudi, setidaknya bisa untuk tidur supaya begitu mereka tiba di tempat wisata dapat beristirahat selama penumpangnya berekreasi. “Tidak perlu terlalu mewah, yang penting ada tempat tidur dan kasurnya,” tambah Budi.

Saat ini Budi menjelaskan bahwa pihaknya masih menunggu tanggapan dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar) untuk mendorong pengelola tempat wisata dapat menyediakan tempat istirahat yang layak bagi para pengemudi. Terkait hal ini, Bayu selaku perwakilan dari Kemenpar menyatakan bahwa penyediaan tempat peristirahatan bagi para pengemudi bus adalah sebuah sudut pandang baru. Karena selama ini perencanaan Kemenpar adalah disediakannya penginapan bagi wisatawan.

“Kami memang memiliki kewenangan untuk mengatur pola pengembangan pariwisata supaya menjadi daya tarik. Kami terus terang tidak dapat mendorong sistem atau kerjasama mereka terkait pola pengembangannya,” sambung Bayu. Namun Bayu menjabarkan bahwa pihak Kemenpar dapat memberikan dan menambahkan persyaratan bagi tempat wisata yang memenuhi standar Sapta Pesona.

Selain itu, pihak pengelola tempat wisata yang diundang sebagian besar menyatakan kesediannya untuk membangun tempat beristirahat yang layak dan nyaman bagi pengemudi bus. “Kami mendukung secara umum, untuk teknisnya mungkin bisa dengan surat dari dinas terkait atau pihak yang berwenang,” ungkap salah satu perwakilan pengelola wisata (gm).

Foto: abri