Rabu, 28 Februari 2018

KRI Waigeo-961 Akhiri Masa Pengabdiannya

Surabaya (IndonesiaMandiri) - Kapal Perang Republik Indonesia atau KRI Waigeo-961 dibawah jajaran Satuan Kapal Bantu (Satban) Koarmatim setelah bertugas sejak 9 Agustus 1985, tepat pada 28 Februari 2018 mengakhiri masa bhaktinya dengan melaksanakan upacara penurunan ular-ular perang dan lencana perang. Acara sakral ini dipimpin oleh Kasarmatim Laksma I.N.G. Sudihartawan, mewakili Pangarmatim, berlangsung di Dermaga Semampir Selatan Koarmatim, Ujung Surabaya (28/02).

Pesan Pangarmatim yang disampaikan Kasarmatim menyebutkan, KRI Waigeo-961 merupakan jenis kapal Angkut Serba Guna (ASG) yang dalam sejarahnya kapal tersebut di produksi di galangan Fasharkan Manokwari pada 1982 dan selanjutnya sejak 9 Agustus 1985 resmi bergabung dalam jajaran TNI Angkatan Laut. Selama 33 tahun masa kedinasannya, KRI Waigeo-961 telah melaksanakan berbagai penugasan berupa mendukung pergeseran personel maupun material ke seluruh wilayah tanah air, baik dalam rangka operasi militer maupun mendukung pembangunan nasional. Dengan kiprahnya selama ini, kehadirannya telah banyak memberikan kontribusi positif bagi terlaksananya tugas-tugas yang di emban TNI AL dan meninggalkan kebanggaan dalam pengabdian kepada bangsa dan negara.

Beberapa aksi pengabdian KRI Waigeo-961 yaitu Satgasla Ambon dan Satgasla Biak dibawah kendali Guspurla Armatim, serta Operasi Pantura Jaya dengan Komandan terakhir adalah Lettu Laut (P) Hanni Chandra berdasarkan Surat Telegram Kasal Nomor 156/SOPS/0218 TWU.0213.1555 telah dilaksanakan penurunan bendera ular-ular perang diatas KRI Waigeo-961. Sebagai kapal angkut serbaguna, KRI Waigeo memiliki panjang 31,3 meter, lebar 6,26 meter, tinggi lambung 2,6 meter, diameter taktis 130 meter, pendorong pokok Diesel Engine dengan kecepatan bertempur 20 nautical miles, bobot 200 ton, kapasitas muat personel 50 orang, dan jarak jelajah 1.000 mil (ab).

Foto: DispenArmatim