Kamis, 15 Februari 2018

Mengintip Ambisi USMC

Jakarta (IndonesiaMandiri) Korps Marinir pada umumnya merupakan pasukan pendarat dari laut ke pantai lalu menusuk kedarat dan merupakan kekuatan yang begerak bersama kekuatan Armada Angkatan Laut sebagai kekuatan Sistem Senjata Armada Terpadu.
Demikian juga halnya dengan keberadaan Korps Marinir Amerika Serikat ( USMC) yang lebih dikenal sebagai pasukan ekspedisi pendarat.  Saat ini USMC terus mendorong untuk kembali ke akarnya sebagai kekuatan ekspedisi dengan fokus kepada peralatan dan sistem - taktik dan strategi.

Tujuannya tak lain agar operasi gabungan antara USMC dan USN (Angkatan Laut AS) dapat lebih bersinerji dengan sempurna.  Adapun langkah yang sedang ditempuh antara lain dengan mengakuisisi peralatan baru, serta mengembangkan taktik dan strategi untuk memfasilitasi operasi amphibi yang berhasil di sepanjang garis pantai.
Hal tersebut di atas juga di utarakan oleh Komandan USMC Jenderal Robert Neller saat berbicara pada konferensi Modern Day Marine di Quantico, Virginia pada September 2017.  Ia mengutarakan sepintas tentang konsep "LOCE" - Littoral Operations in a Contested Environment.  LOCE dianggap sebagai penyaringan dari konsep MOC (Marine Corps Operating Concept) yang di keluarkan pada 2016 dan juga menunjang Prakarsa Marine Corps Force 2025.
Untuk mewujudkan konsep pengembangan bertujuan peningkatan kemampuannya, tak kurang sejumlah kegiatan latihan dilakukan demi penyempurnaan manuver taktis seperti kegiatan latihan "Dawn Blitz 2017" dan "Bold Alligator 2017" yang melibatkan berbagai unsur kekuatan operasi pendaratan dan pendudukan garis pantai.
Upaya ini juga unruk mendapatkan struktur organisasi operasional yang baru yang disebut sebagai Littoral Combat Group sebagai restrukturisasi gugus tempur amphibi dan struktur Kekuatan Operasi Utama MAGTF (Marine Air Ground Task Force).
Beberapa sistem yang dikembangkan antara lain, pengerahan berbagai sistem nir-awak untuk wahana udara, darat dan laut guna membangun pangkalan acu (EAB - Expeditionary Advance bases) dalam sebuah operasi amphibi.   Sistem peluru kendali yang lebih akurat, sistem sensor udara jarak jauh, sistem jaringan komunikasi dan elektronik untuk menentukan target sasaran tembak, serta sistem deteksi dan penghancur ranjau sebagai paket pendaratan amphibi.
USMC dalam memberikan perlindungan udara kini telah dilengkapi dengan skadron udara yang dilengkapi dengan pesawat tempur F-35B yang dalam mendukung operasi amphibi juga akan berkoloborasi dengan pesawat lama mereka MV-22 Osprey.
USMC juga akan terus menyempurnakan kapal-kapal pendaratnya seperti kelas kapal serbu amphibi USS Iwo Jima (LHD 7), kapal dok angkut amphibi USS New York (LPD 21).
Persenjataan yang juga terus dievaluasi dalam kegiatan latihan diantaranya senjata artileri roket M142 HIMARS (High Mobility Artillery Rocket System) yang dipasasng pada Rantis 5 ton, atau juga dipasang pada dek kapal dok angkut amphibi (LPD) seperti pada USS Anchorage (LPD 23).  
Untuk pendaratan pasukan, peralatan dan bekal, wahana LCAC (Landing Craft Air Cushion) tetap menjadi tumpuan Korps Marinir.  Untuk memelihara kesiagaan pengerahan pendaratan pantai, telah dilakukan program perpanjangan usia pakai LCAC tersebut, dan juga pengadaan LCAC baru versi SSC (Ship-to-Shore Connector) LCAC-100, sehingga di jadwalkan hingga periode 2026 USMC dapat tetap didukung dengan setidaknya 40-50 unit LCAC.  LCAC-100 memiliki daya angkut lebih besar 73 short ton dibanding LCAC terdahulu.
Untuk mencapai tujuan sebagai kekuatan pendarat yang kuat dan dapat berintegrasi dengan satuan Armada (flotilla), setiap tahunnya selain melakukan kegiatan operasi, masa jeda di isi dengan berbagai kegiatan latihan dalam berbagai skala, setidaknya satu atau dua skala besar per tahun.  Dapat dipahami dalam membangun kekuatan Marinir yang kuat dan solid masih diperlukan berbagai upaya ekstra dari Komandan Korps Marinir.  Hal tersebut dikarenakan dalam Korps Marinir terdapat berbagai unsur Angkatan Bersenjata, seperti Unsur laut, unsur udara dan unsur darat. (ah/ab) | Foto: Istimewa