Rabu, 21 Februari 2018

Menpar Dukung Penerbangan Hemat Biaya


Jakarta (IndonesiaMandiri) - “Kita akan dukung pengembangan LCC (low cost carrier atau penerbangan hemat biaya) di Indonesia untuk mencapai target 17 juta wisman,” kata Menpar Arief Yahya didampingi staf khusus bidang konektivitas udara, Judi Rifajantoro dan Robert Waloni, ketika menerima kunjungan CEO Air Asia Group Tony Fernandes bersama Direktur Utama Air Asia Indonesia Dendy Kurniawan di kantor Kementerian Pariwisata (18/2). Kunjungan pimpinan Air Asia ini sebagai rangkaian roadshow yang dilakukan Menpar dalam mendapatkan dukungan unsur 3A (Authorities – Airports & AirNavigation – Airlines).

Air Asia sebagai LCC sudah komitmen mendukung program pariwisata Indonesia yang 2018 ini mentargetkan kunjungan 17 juta wisman, dengan membuka rute penerbangan baru ke destinasi pariwisata prioritas serta dari originasi prioritas yang pertumbuhannya besar.

Sementara itu Menpar Arief Yahya mendukung usulan Air Asia dalam pengembangan bandara LCC di bandara prioritas Indonesia; Cengkareng (CGK) dan Denpasar (DPS) serta pengurangan pajal penumpang LCC.

Dalam pertemuan itu, Tony Fernandes mengusulkan pengembangan terminal khusus LCC di Indonesia, khususnya di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng untuk memudahkan konektivitas penerbangan internasional ke penerbangan domestik. Menurut Tony Fernandes, Indonesia cukup kalah pertumbuhan maskapainya dibandingkan negara lain karena tidak memiliki strategi khusus untuk melayani penerbangan LCC.

Tony Fernandes memberi perbandingan dengan Thailand yang sekarang membuka bandara terminal khusus low cost terminal karena mayoritas maskapai menggunakan pesawat wide body, tapi low cost. Pada kesempatan itu Tony Fernandes menyarankan Terminal 2 sebagai terminal khusus low cost terminal atau membuka kembali Terminal 3 lama sebagai terminal khusus maskapai LCC.

Ide utama dari terminal LCC, menurut Tony Fernandes, adalah memperpendek waktu untuk transit, dan memperpanjang waktu untuk berbelanja. Hal ini diharapkan mempertinggi efektivitas waktu penerbangan sehingga bisa diperbanyak (fm).

Foto: Istimewa