Sabtu, 10 Maret 2018

KRI RE Martadinata Kunjungi Satgas TNI di Pulau Batek

Pulau Batek/NTT (IndonesiaMandiri) - Dengan mengusung sandi Operasi Arung Sakti 18 dibawah Komando Gugus Tempur Laut Wilayah Timur, KRI Raden Eddy Martadinata-331 berpatroli diwilayah perbatasan NKRI dengan Timor Leste, tepatnya di Pulau Batek (3/3). Dalam operasi tersebut KRI RE  Martadinata dengan Pgs. Komandan Kolonel Laut (P) Sandharianto yang merupakan Alumni Akademi Angkatan Laut angkatan 42/1996, bertujuan untuk mengamankan dan menjaga kedaulatan NKRI serta melaksanakan fungsi penegakan hukum di wilayah perairan laut Indonesia.

Pulau Batek merupakan pulau tak berhuni dan terletak pada koordinat 09⁰ 15’ 30” S 123⁰ 59’ 30” T dengan luas 0,1 km2. Sebagai pulau kecil berada dalam Provinsi Nusa Tenggara Timur. Secara geografis, sebelah utara Pulau Batek berbatasan dengan Laut Sawu dan sebelah Selatan adalah Pulau Timor tepatnya Desa Oepoloi yang berbatasan langsung dengan wilayah negara Timor Leste. Pulau Batek memiliki nilai strategis karena merupakan pulau terdepan dan terluar yang berbatasan dengan negara Timor Leste. 

Dalam rangka menjaga kedaulatan wilayah NKRI, TNI mengirimkan Satuan Tugas Pam Pulau Terluar yang diawaki oleh 10 personel Marinir dari Batalyon 5 Pasmar 1 dan 16 personel Brigif 21 Komodo Yonif Raider Khusus 44. Satuan Tugas Pengamanan Pulau Terluar di Pulau Batek saat ini di pimpin oleh Letnan Satu Marinir Wahyu, merupakan satgas gabungan TNI yang bertugas selama sembikan bulan. Satgas ini merupakan contoh bagaimana kerja sama antar matra di TNI dapat memperkuat kedaulatan wilayah NKRI sampai ke pulau terluar.

Beberapa fasilitas pendukung yang tersedia adalah pembangkit listrik (tenaga matahari dan tenaga angin), sistem Reverse Osmosis yang dapat merubah air laut menjadi air tawar, serta alat penguat signal jaringan seluler. Dikarenakan sistem Reverse Osmosis sampai saat ini masih belum dapat beroperasi, sumber air tawar di pulau ini masih menggunakan sistem tadah hujan dengan tandon untuk menampung air dimana curah hujan di Pulau Batek sangat jarang. Terdapat pula pembangkit listrik tenaga matahari dan angin, akan tetapi hanya pembangkit listrik tenaga matahari yang masih bisa beroperasi, sedangkan untuk pembangkit listrik tenaga angin tidak dapat beroperasi.

Guna memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti air tawar dan bahan makanan, Satgas Pam Pulau Batek melakukan pembelian kebutuhan tersebut ke Pulau Timor di Desa Oepoloi dengan menyeberang menggunakan sekoci karet ditempuh selama ± 1 jam dalam frekuensi dua kali dalam satu minggu. Kondisi saat ini Satuan Tugas Pengamanan Pulau Batek hanya memiliki satu buah sekoci karet yang tentunya sangat terbatas untuk memenuhi mobilitas pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan pengamanan pulau itu sendiri.

Kehadiran KRI Raden Eddy Martadinata-331 disambut dengan hangat dan gembira oleh personel Satgas Pam Pulau Batek guna memberi dukungan moril kepada rekan-rekan prajurit yang sedang bertugas melaksanakan pengamanan pulau terluar. Tak lupa juga KRI Raden Eddy Martadinata-331 membawa sedikit buah tangan berupa air mineral dan sembako (bp) | Foto: DispenArmatim