Sabtu, 10 Maret 2018

Penerbitan Buku “Skandal Sastra Undercover”

Jakarta (IndonesiaMandiri) - Perdebatan berkepanjangan, menyusul terbitnya buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” (33 TSIPB), yang didahului oleh ajakan Denny JA untuk menulis puisi esai, telah menimbulkan pro-kontra di kalangan sastrawan. Hal ini khususnya berlaku bagi para penyair Indonesia.

Kelompok Gerakan Antiskandal Sastra (GAS), yang menolak 33 TSIB berencana menerbitkan kumpulan tulisan, menyoal beragam modus yang menyertai munculnya proyek penerbitan 33 TSIPB dan puisi esai tersebut. GAS berpendapat, pro-kontra ini membuat peta sastra Indonesia “tidak produktif, terpecah-pecah, dan senantiasa tersandera” oleh kedua hal tersebut.

Ironisnya, menurut GAS, karena tak hendak terlibat polemik formal (yang hanya bakal mengukuhkan keberadaan kedua hal itu) hingga kini jarang ada buku, yang terbit untuk menganalisis dan mengkritisi layak tidaknya 33 TSIPB dan puisi esai dicatat dalam sejarah sastra Indonesia.

Menurut persepsi GAS, yang menggelisahkan dan memiriskan (serta kerap tak terdeteksi secara signifikan) adalah, adanya gejala riil bahwa sepanjang kedua hal tersebut bergulir, selama itu pula muncul aneka modus bersandar uang dan ketidakpahaman publik. GAS menuding, modus ini dilakukan oleh penggeraknya secara masif dan sistematis, demi meraup pelibatan dan dukungan banyak pihak.

Maka GAS, melalui koordinatornya Sosiawan Leak, mengundang semua pihak untuk berkenan terlibat aktif mendukung GAS. Baik berupa mengirim tulisan, atau dukungan dalam bentuk lain. Penerbitan Buku“Skandal Sastra Undercover” bersifat independen, nirlaba, serta berdasar kemandirian individu yang menjunjung tinggi kebersamaan, kebenaran, dan integritas. Penerbitan ini merangkum dan mengakomodir tulisan karya siapapun yang mengalami, atau mengetahui secara langsung ataupun tidak, atas terjadinya modus proyek puisi esai, berdasarkan data dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.
Format tulisan berupa artikel, esai, testimoni, dan puisi serta diperkenankan dilampiri data-data terkait dalam bentuk dokumen tertulis ataupun bewujud gambar. Untuk menunjukkan kematangan berpikir dan kedewasaan bersikap, tulisan hendaknya menggunakan kosa kata yang elegan, cerdas, dan obyektif. Sangat diutamakan yang berdasar argumen rasional (sa) | Foto: Istimewa