Jumat, 09 Maret 2018

Soal Rudal, Korsel Lebih Pilih Teknologi Eropa

Jakarta (IndonesiaMandiri) - Dalam upaya meningkatkan teknologi misil udara-ke-udara pihak Korsel agaknya akan berpaling ke teknologi dari Eropa dibandingkan menunggu kepastian alih teknologi dari Amerika Serikat (AS). Padahal, sudah menjadi rahasia umum, sebagian besar teknologi alutsista Korsel banyak berkiblat ke negeri Paman Sam.
DAPA atau Defence Acquisition Program Administration, pada 5 Maret lalu mempublikasikan 18 program pembelian persenjataan untuk 2018 dengan basis program offset. Termasuk diantaranya pengadaan misil udara-ke-udara jarak jauh Meteor dari MBDA dan  misil udara-ke-udara jarak pendek IRIS-T yang akan di integrasikan dengan konsep pesawat tempur KF-X yang dimotori oleh industri dalam negeri - Korea Aerospace Industries - sejak 2016.   
“Sasaran dari program offset ini untuk membantu kebutuhan industri di dalam negeri dengan teknologi persenjataan dari luar negeri atau berpartisipsi dalam dalam proyek pembelian persenjataan,” demikian penjelasan juru bicara DAPA Kang Hwan-seok. Diantara perjanjian offset, DAPA memprioritaskan adanya alih teknologi misil udara-ke-udara untuk pesawat KF-X. Kontrak antara DAPA dan MBDA untuk misil Meteor telah di tanda tangani pada tahun 2017 yang lalu.
Awalnya pihak DAPA mencanangkan untuk program pengembangan pesawat tempur KF-X ini mengadopsi sistem misil dari AS seperti misil AIM-120 dan AIM-9 dari Raytheon. Namun masih menunggu persetujuan dari pihak Pemerintah Amerika.  Dan pihak DAPA masih membuka kesempatan bagi teknologi Amerika untuk mengembangan pengintegrasian misil udara-ke-udara untuk program KF-X.
Seperti pernah diberitakan di berbagai media, Korsel mengembangkan pesawat tempur KF-X untuk melengkapi angkatan udaranya dengan pesawat tempur generasi kelima. Dan dengan adanya kontrak pembelian 40 unit pesawat F-35A, pihak Korsel akan menggandeng pihak Lockheed Martin sebagai partner utama pengembangan KF-X. Namun untuk alih teknologi, pihak Lockheed Martin harus memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari Pemerintah Amerika, terutama untukactive electronically scanned radar/ASEA dan tiga teknologi pesawat lainnya. Korsel menjadwalkan prototype KF-X dapat diproduksi pada tahun 2021. Dan pada tahun 2032 dapat di produksi 120 unit pesawat untuk menggantikan armada F-4 dan F-5 (ah/ma) | Foto: Istimewa