Senin, 30 April 2018

LPEI Biayai Infrastruktur Sektor Pariwisata


Jakarta (IndonesiaMandiri) - Menteri Pariwisata Arief Yahya menyambut gembira rencana Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank, akan berperan serta pada pembiayaan infrastruktur dasar terhadap Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata melalui skema penugasan khusus ekspor atau National Interest Account (NIA), yang rencana dimulai pada semester pertama 2018. 

Menpar Arief Yahya meminta agar LPEI sejalan dengan instruksi Presiden, yaitu fokus mengembangkan empat dari 10 Destinasi Prioritas Pariwisata (DPP) tahun ini. Tepatnya Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo. 

"Danau Toba, Borobudur, dan Labuan Bajo sudah memiliki badan pengusahaan yang akan menjadi BLU setelah proses APL kelar, yang fokus untuk pengembangan atraksi dan menarik investasi masuk. Ketertarikan investor di berbagai destinasi prioritas di Indonesia ini sering terkendala dengan urusan infrastruktur sehingga perlu bantuan pendanaan, agar tidak lagi terjadi istilah “Mana yang lebih dulu Telur atau Ayam?”, jelas Menpar Arief Yahya ketika disambangi Direktur Utama LPEI beserta jajarannya ke Kantor Kementerian Pariwisata (26/4). 

Menpar didampingi Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenpar Dadang Rizki Ratman, Ketua Tim Pokja Pengembangan 10 DPP Hiramsyah S. Thaib, Asdep Investasi Pariwisata Hengky Manurung. "Selain empat DPP sebagai fokus utama, ada dua DPP yakni Tanjung Kelayang (Belitung) dan Tanjung Lesung (Banten) dimana investor siap masuk. Pembangunan hotel dan restoran (Sheraton) tengah berlangsung di Tanjung Kelayang, sedangkan Tanjung Lesung sudah eksisting sejak lampau,” ungkap Arief Yahya. 

Direktur Utama LPEI Sinthya Roesly mengatakan, bahwa skema penugasan khusus ekspor atau National Interest Account (NIA) dapat digunakan untuk membiayai transaksi atau proyek, termasuk proyek pariwisata yang _non-bankable_ akan tetapi _feasible._ “Sektor pariwisata harus didukung oleh seluruh pihak,” kata Sinthya Roesly, seraya menjelaskan tentang sektor pariwisata di Malaysia yang berkembang karena seluruh pihak mendukung terutama lembaga keuangan. 

Dirut Sinthya Roesly, pada kesempatan itu didampingi Direktur Pelaksana I Dwi Wahyudi,Direktur Pelaksana Indra Supriyadi, Manager Divisi NIA Nanda Hasriyan, dan Kepala Departemen Tito Elvano. 

KEK Mandalika merupakan proyek pertama pembiayaan ekspor sektor pariwisata LPEI. Pihaknya menilai KEK Mandalika adalah salah satu yang paling siap dikembangkan dalam proyek 10 destinasi Bali Baru. Hal ini ditandai dari upaya menghadirkan investor dan pendanaan infrastruktur. Dia berharap pembiayaan ekspor pariwisata dapat dilakukan melalui sinergi BUMN di bidang pembiayaan. 

Menurut Direktur Pelaksana I Dwi Wahyudi, Pembangunan infrastruktur dasar KEK Mandalika di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) membutuhkan dana sebesar Rp 4,5 triliun, antara lain untuk jalan, jaringan listrik, pengolahan air dan utilitas lainnya di dalam kawasan. “Sementara ini LPEI akan mengalokasikan bantuan pembiayaan sekitar Rp 1 triliun-Rp 1,5 triliun, ditargetkan dapat terealisasi pada semester pertama 2018. Pembiayaan infrastruktur dasar tersebut akan diusulkan melalui skema penugasan khusus ekspor atau NIA. Langkah LPEI akan menjadi pionir dalam pembiayaan sektor jasa pariwisata”, ujarnya (ab). 

Foto: Dok.Kemenpar