Sabtu, 19 Mei 2018

Drone Misterius Di Udara Afganistan

Jakarta (IndonesiaMandiri) - Dalam upaya mendukung misi pasukannya di Afganistan, Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) mengerahkan segala kekuatannya, dari pesawat tempur hingga drone.  Data yang diperoleh dan disiarkan oleh Defense News mengemukakan bahwa drone yang diberi nama “Silver Fang” hasil pengembangan laboratorium riset Angkatan Udara Amerika (AFRL) yang berada di Pangkalan Udara Wright-Patterson, Ohio, telah dikerahkan di Afganistan sejak pertengahan 2010an.

Namun masih sedikit sekali data tentang drone Silver Fang ini.  Hanya dikemukakan bahwa drone ini dioperasikan untuk kegiatan operasi intelijen berupa surveillance dan reconnaissance berdasar pada Tier II.  

Dalam presentasi yang dilaksanakan pada Agustus 2015, diperlihatkan drone Silver Fang berupa jenis pesawat bersayap tetap, rel peluncuran pesawat dengan bola sensor yang dipasang pada hidung pesawat.  Silver Fang merupakan derivative dari Sistem Wahana udara tanpa awak Silver Fox yang dikembangkan oleh Divisi Teknologi Nir-Awak dari BAE Systems, yang kemudian di akuisisi oleh Sentinel dan kini meupakan bagian dari Raytheon.

Aslinya drone ini digunakan di medan operasi tempur untuk membantu menemukan posisi lawan (dalam konteks operasi di Afganistan – untuk menemukan posisi teroris) yang memasang bahan peledak atau IED/improvised explosive devices disepanjang jalur konvoi.
Silver Fox telah dilengkapi dengan electro-optical, sensor infra-merah, tetapi oleh pihak AFRL ditambahkan sensor frekuensi radio dengan bidang cakupan pandang yang lebih luas guna membantu sinyal sensor EO/IR dan agar lebih cepat dalam mengidentifikasi IED.

Pengalaman pengoperasian Silver Fang di Afganistan menimbulkan berbagai pertanyaan, diantaranya; seberapa sering pengoperasiannya? Seberapa tingkat keberhasilan menemukan IED? Apakah timbul permasalahan teknis dari jalur komunikasi dan masalah propulsi sehingga program tersebut kemudian dibatalkan? Atau apakah timbul masalah pembiayaan? Namun dengan alasan kerahasiaan, tidak ada jawaban dari pihak AFRL (mah).

Foto: Dok.Raytheon