Minggu, 06 Mei 2018

Kabupaten Batang Pacu Strategi Untuk Jaring Wisatawan


Batang/Jateng (IndonesiaMandiri) - Bupati Batang Wihaji siapkan sejumlah strategi untuk menarik lebih banyak wisatawan berkunjung ke Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Hal ini diutarskan saat menjamu Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) di Pendopo alun-alun Batang yang merupakan penutup rangkaian kegiatan Press Tour Biro Komunikasi Publik dan Forwapar (2-4/5), 


Wihaji mengakui bahwa aksesibilitas dan amenitas menjadi tantangan besar yang harus segera diselesaikan dalam mengembangkan destinasi di kabupaten tersebut. Mengapa? 



“Akses yaang terbatas menuju beberapa destinasi menjadi pekerjaan rumah bagi kami yang harus diselesaikan. Banyak yang menanyakan ke saya, transportasi umum apa yang harus digunakan menuju beberapa tempat wisatanya. Pasalnya, ada tempat wisata seperti Pagilaran yang di atas pukul 17.00 WIB tidak ada lagi akses tranportasi umum yang lewat di sana,” ujar Wihaji saat bertemu dengan 14 media dari Forwapar dan Kepala Bagian Publikasi Nusantara dan Pengelolaan Media Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata, Katijah, di rumah dinasnya, Kabupaten Batang, Jawa Tengah (4/5). 



Untuk mengatasi hal tersebut, sejumlah strategi sedang dirancang. Seperti aksesibilitas darat dan udara ke berbagai destinasi wisata di Batang tengah digodok dan ditata. Untuk aksesibilitas udara, Wihaji menyadari kelemahan Batang adalah jauhnya bandara udara. Memerlukan waktu lebih dari dua jam menempuh perjalanan antara Batang dengan Semarang, sebagai kota terdekat yang memiliki bandara udara. Untuk itu, saat ini Pemda mencari titik temu untuk mengusahakan pembangunan bandara perintis. 



Sedangkan jalur darat, kereta api ekonomi yang berhenti di Stasiun Batang Lama dan Stasiun Batang Baru, serta transportasi umum langsung yang membawa wisatawan dari stasiun pekalongan menuju Batang menjadi target yang saat ini tengah diusahakan realisasinya. 



“Untuk kereta, anehnya Batang memiliki dua stasiun, tapi tidak ada kereta yang berhenti. Pemkab Batang sudah meminta secara resmi kepada PT. Kereta Api Indonesia (KAI), minimal kereta ekonomi berhenti di Batang. Opsi lain seperti membuat transpotasi umum dari Stasiun Pekalongan menuju ke berbagai destinasi wisata di Batang,” jelas Wihaji. 



Mengenai amenitas, Kabupaten Batang masih terbilang minim fasilitas. Saat ini akomodasi yang tersedia hanya hotel bintang dua dan losmen. Untuk alternatif, di beberapa destinasi wisata seperti Sikembang, tengah dikembangkan homestay dan glamping. 



Konsep homestay dan glamping ini sejalan dengan program prioritas Menteri Pariwisata Arief Yahya. Menurut Arief Yahya, untuk mewujudkan akomodasi yang mudah dan murah, harus dilakukan terobosan dengan membangun sebanyak mungkin homestay di desa-desa wisata di seluruh pelosok tanah air (aa). 



Foto: Dok.Kemenpar