Kamis, 24 Mei 2018

Kini Meranti Dapat Tumbuh Subur di Jawa

Bogor (IndonesiaMandiri) - Kayu Meranti telah dikenal sebagai kayu berkualitas untuk konstruksi bangunan, dimana saat ini ketersediaannya sudah mulai berkurang di daerah asalnya yaitu Kalimantan. Pemanenan Meranti sebagai salah satu jenis Dipterocarpa masih diperoleh dari hutan alam, dan dengan kelangkaan tersebut, pembangunan hutan tanaman meranti dipandang strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap hutan alam.

Menyadari hal tersebut, sejak 1997, Pusat Litbang Hutan, Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BLI- KLHK) telah membangun plot uji penanaman meranti di Gunung Dahu, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, seluas 170 Ha, dan di Perawang, Kabupaten Siak, Provinsi Riau seluas 64 Ha. Plot tersebut menggunakan bahan tanaman asal stek dan asal biji, sebagaimana disampaikan oleh Dr. Kirsfianti L. Ginoga, Kepala Pusat Litbang Hutan di Bogor (22/05).

“Tanaman meranti ini merupakan aplikasi dari teknologi KoFFCo Sistem. Siapa yang menyangka 20 tahun kemudian sudah menjadi hutan meranti yang seperti hutan alam, ujar Kirsfianti bangga.

Diterangkan Kirsfianti, penerapan teknik pembibitan KoFFCo (Komatsu-FoRDIA Cooling) ini, pada mulanya sebagai antisipasi pohon Meranti yang tidak menghasilkan benih setiap tahunnya. Berdasarkan hasil pengukuran terakhir oleh Puslitbang Hutan di tahun 2016, produktivitas tegakan meranti pada umur 17 tahun dinilai prospektif, dengan volume tegakan berdiri (standing stock volume) berkisar antara 85 215 m3/Ha. 

Ir. Atok Subiakto, M.Appl, peneliti Puslitbang Hutan sekaligus pionir penanaman Meranti ini, menjelaskan, teknologi koffco digunakan untuk jenis pohon yang bermasalah dalam pengadaan bijinya (perbanyakan generatif), dan sulit diperbanyak dengan perbanyakan vegetatif konvensional, seperti jenis Dipterocarpa, yang masa berbuahnya 2 - 4 tahun sekali. 

Teknologi ini memungkinkan pengadaan bibit jenis Dipterocarpa secara kontinu, juga untuk perbanyakan klon unggul, termasuk mengembalikan spesies yang sudah ditanyatakan punah, lanjutnya.

Berdasarkan hasil pengamatan plot uji penanaman Meranti di Gunung Dahu, Leuwiliang, Bogor, jenis meranti merah (Shorea leprosula dan Shorea selanica) dapat tumbuh dengan baik, dengan bibit asal benih maupun stek. Begitu pula volume kayu akan semakin tinggi seiring rapatnya penanaman, sedangkan rata-rata diameter tegakan semakin besar seiring melebarnya penanaman.

Dengan demikian, penanaman dengan kerapatan tinggi (2 x 2 m) direkomendasikan untuk tujuan produktivitas biomas tegakan, misalnya untuk tujuan perdagangan karbon dan panel kayu. Sedangkan jarak tanam yang lebar (4 x 4 m) direkomendasikan untuk kayu gergajian atau kayu lapis, Atok menyarankan.

Pada hari yang sama, tim Biro Humas berkesempatan melihat secara langsung keberhasilan penanaman pohon Meranti ini, dan menemukan salah satu pohon  (S. leprosula) dengan diameter terbesar 62 cm pada jarak tanam yang luas. Sementara, volume tertinggi dari tegakan meranti dapat mencapai 215.412 m3/Ha, pada jarak tanam 3 x 3 m, dan jumlah pohon 767, dengan keberhasilan 69%. Pada tingkat keberhasilan 66%, jumlah pohon terbanyak terdapat pada jarak tanam 2 x 2 yaitu sebanyak 1650 pohon (Puslithutan, 2016).

Plot uji penanaman Meranti merupakan hasil kerjasama BLI KLHK dengan PT. KOMATSU Marketing Support Indonesia (PT. KMSI), sejak 1994. Pada mulanya dilakukan kegiatan perbanyakan jenis pohon Dipterocarpa (meranti, keruing, balau, kapur, giam, resak), dan sebelumnya plot uji penanaman juga pernah dilakukan di Carita, Provinsi Banten dan Haurbentes, Provinsi Jawa Barat (ab).

Foto: Dok.KLHK