Jumat, 25 Mei 2018

Kuliner Nusantara Siap Go Internasional


Jakarta (IndonesiaMandiri) - “Salah satu tugas utama kita adalah menetapkan standar, agar industri kuliner kita cepat berkembang dan dapat bersaing di pasar global,” ujar Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Pariwisata/BPIKP Kemenpar Rizky Handayani Mustafa saat berdiskusi dengan wartawan yang tergabung dalam Forum Wartawan Pariwisata/Forwapar di Restoran Bunga Rampai Menteng, Jakarta Pusat (23/5). 

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memang menetapkan wisata kuliner sebagai salah satu produk pariwisata unggulan, dan paling mudah didorong untuk melangkah cepat go international. Industri jasa ini bisa sumbang devisa negara 30% dari belanjanya wisman serta telah didukung infrastruktur memadai, seperti memiliki national food dan destinasi wisata kuliner, serta banyak pelaku bisnis kuliner yang sudah menyebar ke mancanegara atau menjadi restoran diaspora Indonesia. 

Kemenpar juga menetapkan program _quick wins_, diantaranya menetapkan Ubud Bali sebagai destinasi gastronomi berstandar Organisasi Pariwisata Dunia milik Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNWTO, United Nations World Tourism Organization) dan mem-branding 100 restoran diaspora Indonesia yang tersebar di mancanegara. 

Rizky Handayani Mustafa bersama para Asdep di Kedeputian BPIKP serta Kepala Biro Komunikasi Publik Guntur Sakti juga memberikan kesempatan kepada narasumber, yaitu Ketua Tim Percepatan dan Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja Kemenpar Vita Datau Messakh dan Manajer Proyek Pasar Papringan di Dusun Ngadiprono, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah (Jateng) Fransisca Callista dari Komunitas Mata Air untuk berbagi kisah sukses dalam mengembangkan kuliner tradisional. 

Vita Datau Messakh mengatakan, Kemenpar memilih Ubud, Gianyar Bali menjadi destinasi pertama _UNWTO Gastronomy Destination Prototype_ dan merupakan strategi marketing yang tepat. Upaya mem-branding Ubud agar mendunia gencar dilakukan, di antaranya pada pertemuan International Gastronomy Forum yang akan berlangsung di Bangkok, Thailand pada 30 Mei hingga 1 Juni 2018 mendatang. 

“UNWTO merupakan endorser terbaik di dunia untuk bidang pariwisata. Masyarakat dunia akan cepat tahu bahwa Indonesia mempunyai Ubud sebagai destinasi gastronomi kelas dunia berstandar UNWTO,” kata Vita Datau Messakh. 

Upaya lain dalam mempercepat kuliner Indonesia go international adalah mem-branding 100 restoran diaspora Indonesia yang ada di mancanegara, di antaranya dengan menggelar Indonesia Gastronomy Months, yang akan berlangsung 27 September hingga 27 Oktober 2018. Pada event tersebut akan ditampilkan lima kuliner sebagai indentitas atau national food Indonesia yakni; rendang, soto, nasi goreng, sate dan gado-gado. Sedangkan media CNN memilih rendang, nasi goreng, dan sate sebagai makanan terlezat di dunia. 

Rizky Handayani Mustafa mengatakan, salah satu tugas dan fungsinya adalah memfasilitas masyarakat (komunitas) untuk mengembangkan diri di bidang pariwisata, seperti Komunitas Mata Air pimpinan Fransisca Callista dalam merevitalisasi desa dengan kreasi kuliner tradisional serta industri kreatifnya melalui Pasar Papringan, di Dusun Ngadiprono Desa Ngadimulyo Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung, Jateng. 

Saat ini Kemenpar baru menetapkan lima destinasi wisata kuliner unggulan: Bali, Bandung, dan Joglosemar (Jogja, Solo, dan Semarang). “Ke depan diharapkan banyak muncul kreativitas masyarakat desa dalam mengembangkan pasar kuliner khas daerah,” kata Rizky seraya mengatakan, pasar kuliner di desa akan memperkuat suatu daerah menjadi destinasi kuliner unggulan (ft/ab). 

Foto: Dok.Kemenpar