Senin, 21 Mei 2018

Menpar Buka Seminar Internasional Kerjasama Pariwisata RI-Belanda


Jakarta (IndonesiaMandiri) - Menteri Pariwisata (Menpar) Dr.Ir. Arief Yahya, M.Sc. membuka sekaligus menjadi _keynote speech_ Seminar Internasional Kepariwisataan Program Penelitian Kerja Sama Luar Negeri STP Bandung dan NHTV Breda-Wageningen University, di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata (18/5).

Seminar ini merupakan rangkaian kegiatan Penelitian Kerjasama Luar Negeri (PKLN) antara STP Bandung (Indonesia) dengan NHTV-Breda (Belanda). Kegiatan PKLN diinisiasi oleh Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Puslitabmas) STP Bandung, dilaksanakan sejak 2017, bertujuan meningkatkan kerjasama dengan perguruan tinggi luar negeri serta meningkatkan kualitas dan kuantitas penelitian kepariwisataan di STP Bandung.

Menpar Arief Yahya yang didampingi Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kemenpar Ir. Rizki Handayani Mustafa, MBTM mengapresiasi penyelenggaraan Seminar Hasil Penelitian Mahasiswa Prodi Manajemen Destinasi Pariwisata (D-DIV) STP Bandung (8 Mahasiswa dan 4 Dosen) dengan Mahasiswa BSc Tourism NHTV Breda – Wageningen University & Research (24 Mahasiswa dan 4 Dosen) yang telah melakukan kegiatan observasi lapangan selama satu bulan di Pulau Sumba dan Pulau Belitung.

Sumba dan Belitung adalah pulau yang saat ini sedang berkembang dan menjadi market bagi wisatawan mancanegara di luar Bali. Belitung dikenal sebagai salah satu 10 DPP atau “Bali Baru”. Sementara itu Pulau Sumba dengan Nihi Sumba Island-nya semakin mendunia, setelah memperoleh penghargaan bergengsi internasional sebagai World’s Best Awards (#1Hotel in The World) oleh majalah Travel + Leisure. “Isu menarik yang menjadi salah satu penilaian adalah Nihi Sumba Island berhasil dalam menjaga kelestarian lingkungan atau _environment sustainability_ serta keperdulian sosial terhadap masyarakat sekitar,” kata Arief Yahya.

Kiki sapaan akrab Rizky Handayani menambahkan, penyelenggaraan PKLN kali ini membahas objek pariwisata di pulau-pulau kecil. Tentunya berdasarkan tinjauan sosial ekonomi maupun manajemen lingkungan. Sehingga bisa diimpelentasikan langsung di negaranya.

“Salah satu tugas mahasiswa adalah penelitian. Kerjasama penelitian ini untuk membangun _research_ metodologi. Bentuknya mungkin konten masukan. Kenapa? Mungkin karena konten dari luar negeri kadang belum tentu lebih baik dari yang ada di dalam negeri,” ujarnya.

“Karena _small island_ ini kaitanya rentan terhadap perubahan-perubahan. Tetapi jika kita bandingkan _small island_ nya mereka sama _small island_ nya kita berbeda. Belanda itu kan kecil banget, tetapi paling tidak profesor dan pengajar di sana punya pengalaman pelajaran di negara lain terkait pengelolaan _small island_,” ujarnya.

Seminar ini menampilkan tiga kelompok mahasiswa, yakni satu kelompok dari STP Bandung yang mempresentasikan hasil penelitian dengan tema *‘Tourism Impact on Socio Culture in Sumba and Belitung Island’,* dan dua kelompok dari NHTV-Breda Belanda mempresentasikan tema *‘Tourism on Small Island Destination: Socio Economic Inclusiveness and Environmental Management’.*

Selain itu ditampilkan empat nara sumber, antara lain Sebastiaan Straatman Koordinator Program Sarjana Pariwisata NHTV Breda & Wageningen University and Research; Erdinc Cak Mak Dosen dari NHTV Breda & Wageningen University and Research; Indra Ni Tua, ST, M.Comm Asdep Pengembangan Infrastruktur dan Ekosistem Pariwisata Kemenpar; dan Drs.Harwan Ekoncahyono W, MT, Asdep Pengembangan Destinasi Regional I Kemenpar, Drs. Lokot Ahmad Enda, MM; serta moderator Dr. Beta Budisetyorini, M.Sc, Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat STP Bandung (aa).

Foto: Dok.Kemenpar