Rabu, 02 Mei 2018

Pemuda Morowali Minta Pemerintah Sikapi Buruh Tionghoa Di Sulteng

Jakarta (IndonesiaMandiri) - Diantara puluhan ribu yang berdemo saat May Day Hari Buruh di Jakarta, terdapat sejumlah pemuda asal Morowali, Sulawesi Tengah (1/5). Mereka turun ke jalan menuntut pemerintah pusat untuk menyikapi persoalan buruh (tenaga kerja) asing asal Tionghoa, yang kini bekerja di beberapa perusahaan di wilayahnya. 

Asnan As'ad, Koordinator Aliansi Rakyat dan Buruh Bersatu (ARUS) Morowali mengatakan, tenaga kerja asing (Cina) di wilayahnya sekitar 70 persen. Sehingga buruh lokal tidak dapat dimanfaatkan. 
Untuk itu, ia meminta pemerintah mengambil langkah tegas untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. 

"Pekerja Cina di Morowali rata-rata adalah pekerja kasar," ujarnya, saat menyampaikan orasinya yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia/KSPI di Jakarta. 

Buruh Cina yang bekerja di beberapa perusahaan, diantaranya PT Sulawesi Mining Investment (SMI) yang juga rekanan PT Bintang Delapan Investama, lanjut Asnan, berjumlah 6.000 pekerja. Kesemuanya, memasuki Morowali menggunakan jalur laut dan udara. 

Bahkan dari jumlah yang ada, besar kemungkinan bekerja sebagai TKA ilegal. Sebab beberapa kali memasuki Morowali, Sulawesi Tengah menggunakan jalur udara Bandara Haluoleo, Kendari, Sulawesi Tenggara, sempat tertangkap beberapa orang. “Didalam site (lahan) tambang terdapat mess (penginapan). Yang menampung sekitar ribuan pekerja,” jelas Asnan. 

Sejauh ini, tambah Asnan, pemerintah daerah (Pemda) Morowali belum bisa mengatasi persoalan tersebut. Makanya, ARUS yang bergabung di KSPI, berharap pemerintah pusat dapat menyikapi persoalan daerah tersebut (ifm). 

Foto: istimewa