Kamis, 10 Mei 2018

Pesona Wisata Kabupaten Batang Layak Dikunjungi


Batang/Jateng (IndonesiaMandiri) - “Kekuatan wisata Batang adalah alam. Tidak semua daerah memiliki gunung dan laut berdekatan. Orang berwisata karena ingin melihat sesuatu, terutama alam. Untuk wisata lainnya, misalnya yang mengandalkan teknologi tentu Batang masih kalah,” jelas Bupati Kabupaten Batang, Wihaji saat menjamu kedatangan rombongan Biro Komunikasi Publik Kemeterian Pariwisata bersama Forum Wartawan Pariwisata/Forwqpar (2/5). 

Press Tour selama tiga hari ini disambut langsung oleh Bupati Kabupaten Batang, Wihaji dan Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Batang, Wahyu Budi Santoso. Didampingi Dinas Pariwisata Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Batang, berbagai destinasi wisata unggulan Batang dikunjungi seperti, Curug Gombong, Agrowisata Pagilaran, Kawasan Hutan Pinus Sikembang, Pantai Ujungnegoro, Pantai Cemorosewu, Batang Dolphins Center, Wisata Tubing Desa Pandansari, Workshop Batik Tiga Negara, pembuatan emping di Desa Limpung, dan paralayang di Bukit Sikuping. 

Sebagai sektor baru yang masih dikembangkan, Dinasparpora Batang membagi destinasi wisata menjadi destinasi prioritas dan penunjang. Saat ini destinasi wisata yang menjadi prioritas untuk dikembangkan adalah Agrowisata Pagilaran, Wisata Paralayang, Hutan Pinus Sikembang, dan Puncak Patran. Sementara itu, destinasi wisata penunjangnya adalah pantai-pantai, air terjun (curug), dan dolphin centre. 

“Destinasi-destinasi ini dipilih karena memiliki tiga alasan. Pertama karena unik dan menawarkan sesuatu yang baru dari daerah sekitar, memiliki potensi wisata alam, dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitarnya,” jelas Wihaji kembali. 

Kabupaten Batang terletak di jalur Pantura, 84 km sebelah barat kota Semarang. Terbagi atas 15 kecamatan, 235 Desa, dan 9 Kelurahan. Kondisi wilayah Kabupaten Batang merupakan kombinasi antara daerah pantai, dataran rendah, dan pegunungan. Kondisi alam ini membuat Kabupaten Batang memiliki potensi untuk pengembangan agroindustri, agrowisata, dan agrobisnis (ay). 

Foto: Dok.Kemenpar