Jumat, 11 Mei 2018

Potensi Kemiri Di Kalimantan Selatan Sangat Strategis

Banjarbaru/Kalimantan Selatan (IndonesiaMandiri) - Guna Dalam menyukseskan program Revolusi Hijau-nya, pertengahan April lalu Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan melaksanakan kegiatan penanaman serentak rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS). Kegiatan ini dilakukan melalui Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan di Provinsi Kalimantan Selatan. Salah satu jenis tanaman yang digunakan adalah kemiri. 

Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Banjarbaru turut dalam kegiatan penanaman kemiri yang berlokasi di Desa Sungai Luar Kecamatqn Aranio Kabupaten Banjar yang juga termasuk dalam kawasan Tahura Sultan Adam tersebut. 

Terkait itu, Dewi Alimah, S.Hut, peneliti dari Balai Litbang LHK (BP2LHK) Banjarbaru juga ditunjuk sebagai salah satu narasumber pada acara Konsultasi Publik “Hasil Kajian dan Draft Roadmap Pengembangan Klaster IPHHK Berbasis Produk Unggulan KPH Kayu Tangi” yang digelar Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel di Grand Dafam Hotel Banjarbaru (6/5). 

Menurut Dewi saat membahas Pengelolaan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) bahwa bahan baku HHBK, khususnya kayu karet hasil peremajaan kebun karet sebagai cuka kayu dan kayu manis melimpah di Kalsel. Untuk itu diperlukan inovasi, baik dari segi optimalisasi pemanfaatan, teknologi pengolahan maupun diversifikasi produk-produk turunannya.

“Dengan inovasi, HHBK di Kalsel tidak hanya berpeluang di pasar domestik tetapi juga berpeluang besar berkompetisi di pasar internasional,” kata Dewi.
Pada acara konsultasi publik tersebut, Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel mengatakan, sebanyak kurang lebih 11 ribu bibit kemiri telah ditanam pada penanaman serentak tersebut. Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel optimis, lima sampai enwm tahun ke depan, Kalsel mampu mengekspor sekitar 550 kontainer kemiri per bulan sehingga nantinya dapat turut serta meningkatkan pendapatan masyarakat. 

Sebagai informasi, kemiri tidak hanya digunakan sebagai bumbu. Hampir semua bagian dari pohon kemiri, seperti daun, buah, kulit, kayu, dan akar dapat digunakan sebagai obat-obatan tradisional, penerangan, bahan bangunan, bahan pewarna, dekorasi dan lain-lain. Selain itu, jenis ini mudah ditanam, cepat tumbuh, dan tidak banyak syarat tempat tumbuhnya sehingga dalam perkembangannya tanaman ini sudah digolongkan sebagai tanaman penghijauan/reboisasi (ab).

Foto: Dok.KLHK