Jumat, 04 Mei 2018

Siaga-Tanggap Bencana Hadapi Perubahan Iklim


Jakarta (IndonesiaMandiri) - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan/KLHK bersama Kementerian/Instansi terkait dengan masalah penanganan bencana,membuat acara diskusi dengan sebutan Pojok Iklim bertema “Tanggap Darurat Bencana Iklim” (2/5). 

Diskusi yang diselenggarakan di KLHK, terbagi dua sesi. Sesi pertama, lebih membahas kajian ilmiah dalam mempetakan serta menelaah terjadinya bencana akibat perubahan iklim. Narasumbernya ada Drs.Hesrizal M.Si (BMKG), Prof Herry Purnomo (Cifor), Prof Edwin Aldrian (IPCC) dan Perdinan Ph.D (IPB). 

Sejak 2001 hingga 2018, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebesar 98% kejadian bencana di Indonesia merupakan hidrometeorologi yang dapat dipengaruhi oleh perubahan iklim. Maksudnya Hidrometeorologis adalah bencana seperti banjir, longsor, angin kencang, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta gelombang pasang. 

Sekretaris Jenderal KLHK Bambang Hendroyono, mewakili Menteri LHK, mengungkapkan bahwa dunia saat ini menghadapi ancaman perubahan iklim dan bukti-bukti awal ancaman perubahan iklim ini sudah nyata terjadi di beberapa belahan dunia. 

Bukti ancaman perubahan iklim tersebut diantaranya adalah terjadi pergeseran musim, dimana musim kemarau menjadi lebih panjang. Hal ini berimplikasi pada kekeringan, krisis air bersih, menurunnya produksi pertanian akibat gagal panen, dan yang paling penting adalah kebakaran hutan. Perubahan iklim, lanjut Bambang merupakan isu global yang harus ditangani bersama dengan meibatkan seluruh lapisan masyarakat hingga ke tingkat tapak. 

Dalam sesi kedua, pembahasan lebih ke arah implementasi aksi atau mitigasi dalam menangani bencana yang dialami masyarakat. Di sini pembicaranya Drs. Margowiyono M.Si (Kemsos), Dr Hendra Yusran Siry (KKP), Raffles Brotestes Panjaitan (KLHK) dan Bambang Surya Putra S.Kom, M.Kom (BNPB). 

Terkait dengan upaya tanggap bencana iklim, masyarakat harus dapat mengenali jenis bencana dan mengidentifikasi risiko yang dapat ditimbulkan. Sistem peringatan dini berbagai bencana iklim juga harus dibuat. Membuat prediksi berdasarkan Impact Based Forecast dan Risk Based Warning. 

Impact Based Forecast adalah hasil prediksi diharapkan dapat memberikan gambaran dampak yang juga dihasilkan pada iklim lokal sehingga memudahkan masyarakat untuk dapat melakukan adaptasi. 

Sedangkan Risk Based Warning adalah peringatan dini yang dihasilkan juga dapat memberikan besaran risiko yang ditimbulkan apabila tidak dilakukan tindakan adaptasi terhadap bencana yang mungkin datang (ab). 

Foto: abri