Senin, 28 Mei 2018

Tanya Menganga Tentang Nasib Anak-Anak Teroris


Surabaya (IndonesiaMandiri) - Malam ini aku bersyukur menjadi bagian dari penggerak acara bertajuk “Suroboyo Guyub” di GKI Diponegoro, untuk mengenang tragedi bom Surabaya yang terjadi pada 13 Mei lalu. Aksi yang dikerjakan bersama oleh Majelis dan Jemaat GKI Diponegoro, Roemah Bhinneka dan Jaringan Gusdurian ini terbilang sukses. Setidaknya bertujuan membangkitkan kerukunan dan menyeruan pesan perdamaian tergapai dengan manis. 

Di luar ekspektasi, berdasarkan absensi ada 1.719 orang, dari 102 (97+5) organisasi kemasyarakatan – lintas iman (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu, Penghayat), Komunitas akademik, Jurnalis, POLRI, Marinir, PGIS Kota Surabaya, IKUB Jatim, FKUB Surabaya, dsb. hadir dan menghangatkan suasana. Ingatan traumatik dan tangis keprihatinan digantikan dengan kebersamaan yang cair dan penuh cinta.

Di “Suroboyo Guyub” ada simpati, doa, dukungan terhadap para korban terorisme. Ribuan orang bersatu dengan pekik, “Suroboyo Wani!” (juga : “Teroris Jancuk!”). Ada juga seruan untuk bangkit dan bergandengan tangan dalam perdamaian dan kasih. Ada ajakan untuk mengampuni. Ada keyakinan bahwa Indonesia terlalu besar untuk dirusak oleh peristiwa terorisme. Itu sungguh mengharukan. Syukur kepada Allah atas keberhasilan acara itu.

Namun syukur yang haru-biru itu terjeda selepas acara, ketika seorang ibu, guru sekolah minggu sekaligus dokter-yang bekerja di Departemen Kesehatan bernama Fitri (Vita) menghampiriku dan mengungkap kegalauan yang mengusik nuraninya.

Di antara kesibukan banyak orang berfoto, bersalaman dan merayakan kebersamaan, Fitri mulai bersaksi. Di satu sisi ia adalah korban, bahkan ibunya mengalami trauma sehingga harus pulang sementara ke Yogyakarta untuk menenangkan pikiran. Ia sendiri masih terguncang dengan peristiwa ledakan di GKI Diponegoro - yang merenggut nyawa sang pelaku dan anak-anaknya. Namun di sisi lain perannya sebagai tenaga kesehatan ‘mengamanatkan’ ia untuk turut merawat dan mendampingi para korban terorisme ini.

Di antara para korban itu Dr. Fitri juga tengah merawat dan mendampingi anak-anak teroris yang terluka – namun tak terenggut nyawanya. Ia sangat miris melihat nasib anak-anak itu. Mereka terluka secara fisik, mental dan spiritual. Orang tua - yang melibatkan mereka dalam aksi terorisme – telah tewas, sementara anak-anak itu tergolek dalam keterasingan tanpa simpati. Mereka harus menanggung beban moral dan sosial seumur hidup dan tengah mendapati kenyataan penolakan yang sangat telak. Jasad orang tuanya “terlantar”. 

Masyarakat menolak tegas untuk menguburkan teroris. Langit memalingkan muka, bumi tak rela dinajiskan dengan jasad seorang pelaku teror. Sementara itu, beban berat akan terus menghantui anak-anak yang (dipaksa) terlibat dalam tindakan teror tersebut. Anak teroris adalah teroris! Cap itu tak mungkin dapat dihapus dalam sejarah kehidupan mereka.

Fitri menggungat, “Aliran cinta dan doa tanpa henti kepada korban ledakan. Tetapi bagaimana dengan anak-anak teroris itu? Mereka tergolek sendiri, sepi, terasing, terancam terror seumur hidup mereka.” Dengan mata menyala dan berlinang air mata ia melanjutkan gugatan nuraninya, “Pak Pendeta mohon jangan lupakan mereka dalam doa. Tolong doakan dan pikirkan nasib mereka! Kita akan segera pulih, ada banyak dukungan, karangan bunga, dan puisi cinta bagi kita. Sementara bagaimana nasib anak-anak teroris itu?”

Pertanyaan itu begitu memukulku. Seolah haru dan hangat acara Surabaya Guyub itu lenyap seketika dalam kehampaan. Apakah gempita nyanyian ”Indonesia Raya”, “Bahasa Cinta” dan “Satu Nusa Satu Bangsa” itu bisa menyelamatkan nasib anak-anak malang tersebut? Tanya yang menganga itu membutuhkan sebuah jawaban!

Oleh: Pdt. Andri Purnawan
Foto: Istimewa