Senin, 11 Juni 2018

Agroforesteri Dapat Tingkatkan Produktifitas Lahan

Jakarta (IndonesiaMandiri) - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan/KLHK memanfaatkan sistem agroforestri menjadi salah satu program yang tengah dilakukan pemerintah sebagai upaya memaksimalkan potensi sumber daya alam untuk dimanfaatkan petani. Sistem agroforestri diperuntukkan bagi petani yang menggarap lahan hutan milik negara, dengan syarat proses bercocok tanamnya harus berbasis ramah lingkungan.

Pengembangan dan pengenalan agrofrestri terus dilakukan di tingkat tapak sehingga masyarakat bisa lebih sejahtera dan hutan lestari. Seperti yang dilakukan oleh Balai Litbang Teknologi Agroforestry (BP2TA) Ciamis dengan terus mendiseminasikan hasil penelitian dan pengembangannya. Diseminasi dilakukan, salah satunya melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Agroforestri di Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Lingkup Balai Pengelolaan Hutan Produksi (BPHP) Wilayah XII Palu di Palu, beberapa waktu lalu.

Pada kesempatan tersebut, Kepala BP2TA, Bagus Novianto memaparkan “Konsep dan Aspek Teknologi Agroforestri untuk Mendukung Pengelolaan Sumber Daya Alam”. “Kami juga berhasil menerapkan model agroforestri tanaman hutan penghasil sumber pangan (umbi-umbian) dalam mendukung program ketahanan pangan lokal di Garut, Jawa Barat dan KPHP Yogyakarta, serta adopsi penerapan model agroforestri bambu dalam rangka rehabilitasi hutan dan lahan oleh BPDAS-HL Citanduy, Jawa Barat,” ujar Bagus.

Sementara itu, Peneliti BP2TA Ciamis, Aditya Hani, mengatakan bahwa keberhasilan agroforestri berkaitan dengan pemilihan jenis tanaman, pengaturan ruang tumbuh, dan pemeliharaan. Menurut Aditya, untuk meningkatkan produktivitas agroforestri dapat dilakukan melalui variasi komoditas yang ditanam di bawah tegakan kanopi, dan rehabilitasi lahan pertanian sebagai bagian dari menjaga hutan yang tersisa melalui penerapan pertanian organik. Selain itu, dengan memaksimalkan penggunaan yang bijaksana dari pengendalian secara biologi, pengendalian hama penyakit terpadu, dan sistem pengelolaan biaya rendah.

“Litbang silvikultur agroforestri yang dilakukan BP2TA Ciamis diantaranya kombinasi sengon dan cabai, manglid dengan berbagai jenis umbi-umbian, manglid dengan tanaman semusim (jagung dan kedelai), nyamplung dan tanaman semusim, dan agroforestri bambu,” ujar Aditya saat membagikan pengalamannya kepada para peserta.

Kegiatan ini dihadiri oleh 48 orang peserta dari 12 KPHP di 3 Provinsi, yaitu 3 dari Gorontalo, 1 dari Sulawesi Utara, dan 8 dari Sulawesi Tengah. Masing-masing mengirimkan 4 orang perwakilan yang terdiri 1 orang pendamping dari KPHP dan 3 orang dari Kelompok Tani Hutan (rm).

Foto: abri