Senin, 25 Juni 2018

Mengintip Sistem Kerja Sonar Jelajah Obyek Dalam Air

Sebuah operasi pencarian bawah air membutuhkan perkiraan lokasi benda yang ingin ditemukan. Semakin akurat perkiraan lokasi benda yang ingin ditemukan, maka akan semakin pendek waktu yang diperlukan untuk menemukannya.

Pengukuran dan deteksi bawah air memanfaatkan prinsip kerja sonar (‘Sound Navigation And Ranging’) aktif, yakni alat yang dapat membangkitkan gelombang suara ke kolom air dan mendengarkan kembali gemanya dari objek yang dideteksi. Setiap gema yang diterima akan ditandai waktu kedatangan dan kekuatannya.

Waktu kedatangan gema dipakai untuk menentukan jarak objek dari alat, sedangkan kekuatan gema dipakai untuk membedakan kekerasan dan kekasaran permukaan objek. Prinsip inilah yang digunakan peralatan survei bawah air, khususnya ‘Multibeam Echosounder’ (MBES), untuk mendapatkan bentuk sebuah objek di dasar perairan. Bentuk objek tersebut tersusun dari sebaran titik-titik dengan jarak yang berbeda-beda. Sampai di sini selesailah tugas MBES yang memanfaatkan prinsip kerja sonar aktif tersebut, namun tugas pencarian benda yang dicari masih panjang.

Selanjutnya, berdasarkan sebaran titik-titik dengan jarak dari permukaan air yang berbeda-beda itu dilakukanlah proses interpretasi yang akan mengartikan bentuk yang dideteksi MBES tersebut. Hasil interpretasi akan sangat bergantung pada tingkat kerincian bentuk yang terdeteksi. Sistem MBES dapat membedakan jarak yang lebih besar dari sekitar 10 cm. Di bawah itu, jarak akan terlihat sama bagi MBES. Selain itu, pada jarak 400an meter dari permukaan air, MBES dapat memisahkan benda dengan dimensi lebih besar dari sekitar 10 m kali 10 m. Benda yang ukurannya lebih kecil 10 m kali 10 m tidak akan terdeteksi oleh MBES. Dengan perangkat lunak pengolahan data, sebaran titik-titik data dapat dihubungkan satu dengan lainnya untuk membentuk sebuah bangun permukaan. Jika hasil interpretasi menyatakan bahwa bentuk tersebut patut disangka sebagai objek yang dicari maka perlu dilakukan tahap verifikasi.

Tahap verifikasi dalam sebuah pencarian harus dilakukan secara visual. Di kedalaman ratusan meter di bawah air, hal ini harus dikerjakan oleh robot bawah air yakni ‘Remotely Operated Vehicle’ (ROV) yang dikendalikan dari kapal di permukaan. ROV dilengkapi dengan kamera yang memungkinkan tim pencari melihat langsung objek yang disangka sebagai objek yang dicari. Verifikasi visual ini mengakhiri proses pencarian dengan memastikan bahwa benda yang terdeteksi oleh sistem sonar dan diinterpretasi sebagai objek yang disangka adalah benda yang sedang dicari. Selanjutnya, tim pencarian akan digantikan oleh tim penyelamatan yang bertugas melakukan pemindahan objek untuk penyelidikan lebih lanjut.

Jadi, sebuah operasi pencarian bawah air memerlukan perkiraan lokasi terbaik untuk mempersempit bidang pencarian, deteksi bawah air dengan teknologi sonar untuk menandai objek-objek yang mencurigakan, interpretasi objek-objek bawah air mencurigakan yang dapat disangka sebagai objek yang sedang dicari, dan verifikasi visual untuk memastikannya.

Penulis Purbandono, Ahli Hidrografi dari ITB dan Anggota Dewan Hidrografi Indonesia (DHI)

Foto: Istimewa