Selasa, 12 Juni 2018

Upaya Penyelamatan Orangutan Terus Dilakukan KLHK

Ketapang/Kalbar (IndonesiaMandiri) - Beberapa waktu lalu media sempat diramaikan oleh pemberitaan terkait video satwa Orangutan yang sedang melawan salah satu alat berat (excavator) di kawasan hutan gambut. Rupanya video tersebut merupakan video lawas yang berasal dari kegiatan penyelamatan (rescue) Orangutan oleh lembaga International Animal Rescue (IAR) pada 2013.

"Saat itu kegiatan rescue dilakukan terhadap tujuh individu Orangutan, di kawasan perkebunan kelapa sawit PT Arthu Energi Resources, Desa Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, akibat adanya kebakaran di kawasan konsesi kebun kelapa sawit tersebut", jelas Indra Exploitasia, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, KLHK.

Diterangkan Indra, Kementerian Lingkungqn Hidup dan Kehutanan/KLHK berupaya keras untuk mengatasi setiap permasalahan konflik satwa liar baik di dalam maupun di luar kawasan hutan. "Dalam kurun waktu 2012 – 2017, KLHK telah menyelamatkan lebih dari 250 Orangutan Kalimantan ke pusat penyelamatan Orangutan, maupun dipindahkan (translokasi) ke habitat yang lebih aman. Hingga Desember 2017, jumlah Orangutan yang sudah dilepasliarkan, maupun translokasi sebanyak 726 individu, sementara yang ada di pusat rehabilitasi sebanyak 1.059 individu", lanjutnya.

Berdasarkan data Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) Orangutan di 2016, menunjukkan populasi orangutan kalimantan hampir 80% tersebar di luar kawasan konservasi. Sebanyak 57.350 individu Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) diperkirakan hidup pada habitat seluas 16.013.600 hektar, yang tersebar di 42 kantong populasi. Proyeksi viabilitas orangutan menunjukkan hanya 59-38% Metapopulasi diprediksi akan lestari (viable) dalam 100-500 tahun ke depan

Sebagaimana diketahui, video viral dimaksud disebarkan oleh salah satu media asing yaitu BBC, dengan link (https://www.bbc.co.uk/programmes/b0b2n9v0), kemudian BBC Indonesia merilis iklan (teaser) film tersebut bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, pada 5 Juni 2018.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Wiratno, menyampaikan, bahwa berdasarkan hasil overlay peta sebaran populasi Orangutan dengan peta perusahaan, hampir semua wilayah habitat orangutan terokupasi dengan kebutuhan ruang untuk pembangunan ekonomi. "Jumlah kebutuhan ruang habitat Orangutan hanya sedikit, yaitu hanya  2,57% (dari luasan kebun sawit), dan 24,18% (dari luasan bukan kebun sawit), sehingga perlu ada kewajiban dunia usaha untuk mempertimbangkan habitat Orangutan, sebagai salah satu parameter keberhasilan pengembangan usaha, yang berbasis pembangunan berkelanjutan", ujarnya.

Sebagai informasi kepada publik, Menteri LHK Siti Nutbaya juga telah menyampaikan tanggapannya dalam video yang diunggah  pada laman  berikut http://www.sitinurbaya.com/penjelasan-menteri-lhk-terkait-upaya-penyelamatan-satwa-orangutan (lw).

Foto: abri