Sabtu, 30 Juni 2018

Bijak dan Arief Dengan Alam Semesta Pelajaran Musibah Toba

Jakarta (IndonesiaMandiri) - Tragedi nasional yang menimpa penumpang KM Sinar Bangun di perairan Danau Toba, Sumatera Utara (18/6), menjadi perhatian besar bagi masyarakat di Tanah Air. Kejadian ini tak lama setelah masyarakat merayakan hari raya Idul Fitri (hari keempat).

Masyarakat Sumatera Utara sendiri juga sedang “disibukkan” dengan pesta demokrasi Pilkada, dimana sedang ingin memilih gubernurnya yang baru pada 27 Juni kemarin.

Tragedi di Toba menjadi pelajaran penting agar lebih bijak dan arif kepada alam. Potensi keindahan dan pesona Danau Toba, hendaknya bisa dimanfaatkan dan optimalkan sebaik mungkin bagi masyarakat disekitarnya.

Kemarin terdengar kabar bahwa tim penyelamat gabungan yang dipimpin Basarnas, sudah menemui sejumlah bukti benda dan manusia dikedalaman air 400an meter dari KM Sinar Bangun. Ini pertanda baik. Tinggal bagaimana mengangkut ke permukaan secara bertahap semua bukti tersebut.

“Kita mengutamakan menemukan korban manusianya daripada kapal,” tegas Kabasarnas M.Syaugi beberapa kali kepada masyarakat. Intinya, tim Basarnas bekerja dengan hati dan allout.

Yang tak kalah pentingnya adalah, memohon doa tiada henti kepada Sang Pemilik Alam Semesta, Tuhan, agar diberikan kemudahan dalam proses pencarian korban dari KM Sinar Bangun.
Karena berkat kemurahan dan kebesaran Tuhan, diharapkan proses pencarian ini bisa lebih dimungkinkan dari segala tantangan dan kendala yang dihadapi di lapangan (ab).

Foto: Dok.Kemenpar